RSUD dr. Soeselo - Jl. Dr. Sutomo No. 63, Slawi (0283) 491016, kontak@rsudsoeselo.com

Pada setiap 1 Juni diperingati sebagai Hari Anak Internasional. Tahun 1925, Hari Anak Internasional ditetapkan guna menarik perhatian dunia pada deretan isu yang berdampak pada anak. Menurut perwaklian negara-negara yang hadir pada konvensi PBB itu mengenali kalau orang dewasa memiliki utang untuk memberi bekal terbaik pada anak-anak. Sebagai hasil, konvensi tersebut mengadopsi Dekrasi Geneva tentang Hak-hak Anak.

Pemerintah Indonesia telah memberikan komitmen besar pada tataran global dan nasional untuk kesejahteraan anak, termasuk komitmen untuk mewujudkan Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030. Agenda 2030 memberikan negara-negara peluang berharga untuk memacu kemajuan pembangunan bagi anak, ditunjang oleh prinsip untuk tidak membiarkan seorang pun tertinggal. Kondisi kesejahteraan anak saat ini adalah penanda penting bagi kemajuan Indonesia dalam mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) pada 2030 kelak.

Ada hal-hal yang perlu diperhatikan orang tua saat mendidik anak, seperti anak bukan orang dewasa mini anak tetap anak, dunia bermain dunia anak adalah dunia bermain, anak juga berkembang secara psikologis, meniru salah satu proses pembentukan tingkah laku dan anak-anak pada dasarnya kreatif.

Bermain merupakan sebuah kegiatan yang disukai anak, bukan hanya disukai saja. Sebenarnya, bermain merupakan sebuah hak untuk anak. Terluhat pada Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, bermain merupakan hak nomer satu dari 30 hak lainnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa bermain begitu penting bagi anak, sehingga hak-haknya haruslah terpenuhi.

Dalam rangka memperingati Hari Anak Internasional, Tim Promosi Kesehatan RSUD dr. Soeselo mengadakan penyuluhan tentang pemenuhan hak anak melalui bermain yang dibawakan langsung oleh Candra Dewi Kusumarini, S.Psi. Menurut Candra, pemenuhan hak anak harus dimulai dengan terpenuhinya waktu bermain yang seringkali orang tua menganggap tak penting. Terlebih di zaman yang serba canggih ini, di era teknologi yang serba bisa membuat orang tua memutuskan untuk membiarkan anaknya bermain dengan gadget. Padahal, pengaruh bermain gadget yang berlebihan tak hanya membuat mata anak terganggu, tetapi memengaruhi daya kognisi sang anak bila penggunaannya tak dikontrol oleh sang orang tua.

Menurut Erikson dan Freud, permainan adalah suatu bentuk penyesuaian diri manusia yang sangat berguna menolong anak menguasai kecemasan dan konflik. Piaget melihat permainan sebagai suatu metode yang meningkatkan perkembangan kognitif anak-anak.

Lalu, apa pengaruh bermain dengan kemampuan intelektual anak? Bermain banyak manfaatnya, seperti merangsang perkembangan kognitif anak, membangun struktur kognitif anak, membangun kemampuan kognitif anak, anak jadi belajar memecahkan masalah, dan anak mampu mengembangkan rentang konsentrasi.

Bermain juga meningkatkan perkembangan sosial anak. Anak belajar untuk berkomunikasi dan berorganisasi, dengan bermain anak jadi lebih mampu mengelola emosi, mengatasi konflik dalam diri, meningkatkan rasa percaya diri, hingga yang paling dapat terlihat adalah bermain mengembangkan keterampilan motorik, meningkatkan kepekaan pengindraan, serta sebagai sarana menyalurkan energi fisik yang terpendam.

Penulis: Heni Purnamasari, SKM

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter message.

You may also like